Terapi plasma merupakan salah satu prosedur medis yang digunakan untuk menangani penyakit tertentu, terutama gangguan darah dan penyakit yang melibatkan sistem kekebalan tubuh. Jenis terapi ini tidak hanya satu, sehingga penting memahami perbedaan pertukaran plasma (therapeutic plasma exchange atau TPE) dengan pemberian plasma donor sebagai bagian dari transfusi.
Apa Itu Terapi Plasma?
Terapi plasma adalah istilah yang dapat merujuk pada beberapa tindakan medis yang menggunakan atau mengolah plasma darah sesuai kebutuhan pasien. Plasma merupakan bagian cair darah yang mengandung air, protein, antibodi, faktor pembekuan, dan berbagai zat lain yang berperan dalam fungsi tubuh.
Salah satu prosedur yang dikenal adalah pertukaran plasma terapeutik atau TPE. Pada prosedur ini, darah dialirkan melalui mesin untuk memisahkan plasma, kemudian komponen darah yang diperlukan dikembalikan ke tubuh bersama cairan pengganti yang sesuai.
Tujuan TPE adalah mengurangi zat tertentu yang beredar di dalam plasma, seperti antibodi atau protein abnormal yang berkontribusi terhadap penyakit. Pada kondisi tertentu, plasma donor juga dapat digunakan untuk menggantikan protein darah yang dibutuhkan tubuh.
Perlu dipahami bahwa terapi plasma bukan pengobatan umum untuk semua penyakit. Dokter menentukan jenis prosedur berdasarkan diagnosis, tingkat keparahan, hasil pemeriksaan, serta manfaat dan risiko bagi pasien.
5 Penyakit yang Dapat Membutuhkan Terapi Plasma
Beberapa penyakit dapat ditangani menggunakan pertukaran plasma sebagai terapi utama, terapi tambahan, atau tindakan untuk kondisi tertentu. Berikut lima contoh penyakit yang memiliki indikasi penggunaan terapi plasma berdasarkan literatur dan pedoman medis.
1. Thrombotic Thrombocytopenic Purpura (TTP)
TTP merupakan kelainan darah langka yang menyebabkan terbentuknya gumpalan kecil di pembuluh darah. Kondisi ini dapat mengurangi jumlah trombosit dan merusak sel darah merah, serta mengganggu fungsi organ seperti otak dan ginjal.
Pada TTP yang didapat, pertukaran plasma merupakan bagian penting dari penanganan medis. Prosedur ini membantu mengurangi faktor yang memicu pembentukan gumpalan sekaligus menggantikan protein plasma yang dibutuhkan tubuh. TTP yang dicurigai memerlukan penanganan segera di rumah sakit karena dapat mengancam jiwa.
Penanganan TTP tidak cukup hanya mengandalkan prosedur plasma. Dokter dapat memberikan terapi lain sesuai jenis penyakit, hasil pemeriksaan, dan respons pasien.
2. Sindrom Guillain-Barré
Sindrom Guillain-Barré atau Guillain-Barré syndrome (GBS) merupakan gangguan ketika sistem kekebalan tubuh menyerang saraf tepi. Gejalanya dapat berupa kesemutan, kelemahan otot, dan kesulitan berjalan, bahkan pada kasus berat dapat mengganggu pernapasan.
Pertukaran plasma dapat digunakan untuk mengurangi antibodi dan faktor kekebalan yang berperan dalam kerusakan saraf. Terapi ini merupakan salah satu pilihan pengobatan yang terbukti bermanfaat untuk GBS akut, selain imunoglobulin intravena atau IVIg.
Pasien dengan kelemahan yang berkembang cepat, kesulitan menelan, atau sesak napas perlu segera mendapatkan pertolongan medis. Penanganan di rumah sakit penting untuk memantau fungsi pernapasan dan komplikasi lain.
3. Myasthenia Gravis
Myasthenia gravis adalah penyakit autoimun yang mengganggu komunikasi antara saraf dan otot. Akibatnya, penderita dapat mengalami kelemahan otot yang memburuk saat beraktivitas, kelopak mata turun, penglihatan ganda, atau kesulitan menelan.
Dalam kondisi tertentu, terutama saat terjadi perburukan berat atau krisis miastenik, pertukaran plasma dapat membantu mengurangi antibodi yang mengganggu fungsi sambungan saraf dan otot. Efeknya dapat muncul relatif cepat, sehingga prosedur ini menjadi salah satu pilihan terapi jangka pendek dalam situasi klinis tertentu.
Terapi plasma tidak selalu diperlukan bagi setiap pasien myasthenia gravis. Dokter akan mempertimbangkan tingkat kelemahan, kondisi pernapasan, pengobatan sebelumnya, serta pilihan lain seperti IVIg.
4. Chronic Inflammatory Demyelinating Polyneuropathy (CIDP)
CIDP adalah gangguan peradangan kronis pada saraf tepi yang dapat merusak lapisan mielin, yaitu lapisan pelindung serabut saraf. Penyakit ini dapat menyebabkan kelemahan otot yang berkembang secara bertahap, gangguan keseimbangan, dan penurunan kemampuan berjalan.
Pertukaran plasma dapat digunakan untuk membantu mengurangi faktor kekebalan yang berperan dalam penyakit tersebut. Bukti klinis mendukung penggunaan prosedur ini pada CIDP, tetapi pemilihan terapi harus disesuaikan dengan kondisi dan respons pasien.
Karena CIDP merupakan penyakit kronis, pasien mungkin membutuhkan penanganan berkelanjutan. Dokter dapat mempertimbangkan terapi lain, termasuk imunoglobulin atau obat tertentu, sesuai kebutuhan masing-masing pasien.
5. Penyakit Anti-GBM atau Sindrom Goodpasture
Penyakit anti-GBM merupakan gangguan autoimun ketika antibodi menyerang bagian tertentu dari membran dasar, terutama pada ginjal dan terkadang paru-paru. Kondisi ini dapat menyebabkan peradangan ginjal yang berat dan perdarahan paru.
Pada pasien yang memenuhi indikasi, pertukaran plasma membantu menghilangkan antibodi penyebab penyakit dari sirkulasi darah. Prosedur ini biasanya menjadi bagian dari penanganan yang juga dapat melibatkan obat penekan sistem kekebalan tubuh.
Penyakit anti-GBM membutuhkan diagnosis dan penanganan segera, terutama jika disertai batuk berdarah, sesak napas, atau penurunan fungsi ginjal. Tidak semua pasien dengan gangguan ginjal atau paru memerlukan pertukaran plasma; keputusan bergantung pada hasil pemeriksaan dan kondisi klinis.
Bagaimana Prosedur Terapi Plasma Dilakukan?
Pertukaran plasma dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih di fasilitas medis yang memiliki peralatan dan pemantauan sesuai kebutuhan. Sebelum tindakan, dokter menilai kondisi pasien, hasil pemeriksaan darah, akses pembuluh darah, serta risiko yang mungkin terjadi.
Secara umum, prosedur berlangsung melalui tahapan berikut:
- Pemeriksaan awal. Tim medis menilai kondisi pasien dan melakukan pemeriksaan yang diperlukan.
- Pemasangan akses pembuluh darah. Darah dialirkan melalui akses yang sesuai dengan kondisi pasien.
- Pemisahan plasma. Mesin memisahkan plasma dari komponen darah lainnya.
- Penggantian plasma. Plasma yang dikeluarkan diganti dengan cairan yang sesuai, seperti albumin atau plasma donor, tergantung indikasi medis.
- Pengembalian darah dan pemantauan. Komponen darah dikembalikan ke tubuh, sementara tenaga kesehatan memantau kondisi pasien selama dan setelah tindakan.
Jumlah sesi dan jarak antarprosedur tidak sama untuk setiap penyakit. Dokter menentukan jadwal berdasarkan diagnosis, tingkat keparahan, hasil pemeriksaan, serta respons terhadap terapi.
Apa Risiko dan Efek Samping Terapi Plasma?
Seperti tindakan medis lainnya, pertukaran plasma memiliki risiko yang perlu dipahami pasien dan keluarga. Sebagian pasien dapat mengalami efek samping ringan, tetapi komplikasi tertentu membutuhkan penanganan segera.
Efek samping yang mungkin muncul antara lain:
- Tekanan darah menurun, pusing, atau merasa lemas.
- Kesemutan atau kram akibat perubahan kadar kalsium.
- Reaksi alergi, terutama jika menggunakan plasma donor.
- Perdarahan atau gangguan pembekuan akibat perubahan protein dalam plasma.
- Infeksi atau komplikasi pada akses pembuluh darah.
Risiko bergantung pada kondisi pasien, jenis cairan pengganti, obat yang digunakan, dan cara prosedur dilakukan. Karena itu, pasien perlu menyampaikan riwayat penyakit, alergi, dan obat yang sedang dikonsumsi kepada tim medis sebelum tindakan.
Apakah Semua Pasien Bisa Mendapatkan Terapi Plasma?
Tidak semua orang dengan penyakit autoimun atau gangguan darah membutuhkan terapi plasma. Prosedur ini memiliki indikasi khusus dan harus dipilih setelah dokter menilai diagnosis, tingkat keparahan, kemungkinan manfaat, serta risiko tindakan.
Pasien juga perlu memahami bahwa pertukaran plasma bukan pengganti seluruh pengobatan. Pada banyak kondisi, prosedur tersebut digunakan bersama obat-obatan, pemantauan laboratorium, atau perawatan suportif lainnya.
Apabila dokter merekomendasikan terapi plasma, pasien atau keluarga dapat menanyakan beberapa hal berikut:
- Apa tujuan terapi dalam kondisi yang sedang dialami?
- Apakah tersedia pilihan pengobatan lain?
- Berapa sesi yang mungkin diperlukan berdasarkan kondisi pasien?
- Apa risiko yang perlu diwaspadai selama dan setelah prosedur?
- Bagaimana keberhasilan terapi akan dinilai?
Pertanyaan tersebut membantu pasien memahami rencana perawatan dan mengambil keputusan bersama tim medis berdasarkan informasi yang memadai.
Tabel Ringkasan Penyakit yang Dapat Membutuhkan Terapi Plasma
Tabel berikut merangkum lima penyakit yang dapat ditangani dengan pertukaran plasma beserta tujuan penggunaannya. Terapi tetap ditentukan berdasarkan indikasi medis dan tidak otomatis diberikan kepada setiap pasien dengan diagnosis yang sama.
Penutup
Terapi plasma dapat menjadi bagian penting dari penanganan TTP, sindrom Guillain-Barré, myasthenia gravis, CIDP, dan penyakit anti-GBM. Namun, jenis tindakan, waktu pelaksanaan, dan kombinasi pengobatan harus ditentukan oleh dokter berdasarkan kondisi masing-masing pasien.
Masyarakat sebaiknya tidak menentukan kebutuhan terapi plasma hanya berdasarkan gejala atau informasi umum. Untuk memperoleh penjelasan yang sesuai, konsultasikan kondisi pasien kepada dokter spesialis terkait dan gunakan informasi dari lembaga kesehatan tepercaya.